thepoethouse – Pejabat organisasi kemanusiaan Humanity & Inclusion, Nick Orr, memperkirakan proses pembersihan bom di Jalur Gaza akan berlangsung sangat lama. Ia menyebut wilayah itu kini seperti ladang ranjau mengerikan yang belum terpetakan. Kondisi ini terjadi akibat serangan berkepanjangan antara Israel dan Hamas.
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lebih dari 53 orang tewas dan ratusan lainnya terluka akibat sisa bahan peledak yang belum meledak. Namun, Orr meyakini angka sebenarnya jauh lebih tinggi dari laporan resmi.
“Pembersihan total hampir mustahil. Banyak bom tertanam dalam tanah,” ujar Orr dikutip dari Reuters, Jumat (24/10/2025). Ia menjelaskan, bom-bom tersebut bisa terus ditemukan selama beberapa generasi mendatang.
Selain itu, Orr menambahkan bahwa pembersihan di permukaan tanah masih mungkin dilakukan, meski membutuhkan waktu panjang. “Proses di permukaan bisa selesai dalam satu generasi. Tetapi, secara keseluruhan, dibutuhkan waktu 20 hingga 30 tahun,” jelasnya.
BACA JUGA : “BPJS Kesehatan Tak Naik, Tapi Tunggu Ekonomi Ngebut 6%!”
Sementara itu, upaya pembersihan menjadi tantangan besar bagi komunitas internasional. Skala kehancuran di Gaza membuat tim penjinak bahan peledak harus bekerja sangat hati-hati. Karena itu, Orr menegaskan bahwa proses ini harus dilakukan bertahap dan berkelanjutan agar warga Gaza bisa kembali hidup aman.
Tim Kemanusiaan Terhambat Izin Israel untuk Bersihkan Bom di Gaza
Kelompok bantuan internasional masih menghadapi hambatan besar dari pihak Israel dalam upaya membersihkan sisa bom di Jalur Gaza. Nick Orr dari organisasi Humanity & Inclusion mengatakan bahwa hingga kini, timnya belum mendapatkan izin penuh untuk memulai proses pemindahan dan penghancuran bahan peledak yang belum meledak. Selain itu, Israel juga belum mengizinkan masuknya peralatan penting yang diperlukan untuk misi berisiko tinggi tersebut.
COGAT, lembaga militer Israel yang mengatur arus bantuan ke Gaza, belum memberikan tanggapan resmi terkait kendala ini. Pemerintah Israel hingga kini masih memblokir barang-barang yang dianggap memiliki “penggunaan ganda”, yakni bisa dipakai untuk kepentingan sipil maupun militer. Kebijakan tersebut membuat banyak organisasi kemanusiaan kesulitan mengimpor peralatan teknis dan bahan penunjang untuk operasi pembersihan bom.
BACA JUGA : “Bocah 6 Tahun Tewas Dianiaya Ibu Tiri, Kasus Kejam Bojonggede”
Desakan Bentuk Pasukan Keamanan untuk Lindungi Misi Kemanusiaan
Nick Orr menegaskan bahwa pihaknya sedang mengupayakan izin untuk mengimpor persediaan khusus yang digunakan membakar bom, bukan meledakkannya, guna mengurangi risiko tambahan di lapangan. Ia juga mendukung pembentukan pasukan keamanan sementara sebagaimana diusulkan dalam rencana gencatan senjata 20 poin yang tengah dibahas.
“Jika ada masa depan apa pun di Gaza, harus ada pasukan keamanan yang melindungi para pekerja kemanusiaan,” tegas Orr. Ia menilai kehadiran pasukan tersebut penting agar operasi kemanusiaan dapat berjalan aman dan efektif, tanpa ancaman dari pihak bersenjata maupun risiko ledakan susulan. Hingga kini, tim bantuan internasional hanya bisa menunggu keputusan politik dan izin akses untuk memulai misi berbahaya namun vital tersebut.




Leave a Reply