thepoethouse – Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, menegaskan bahwa para pejuangnya di Rafah tidak akan menyerah kepada Israel. Mereka menyampaikan sikap tegas ini sambil mendesak para mediator untuk segera menemukan solusi atas krisis yang mengancam gencatan senjata yang telah berlangsung selama satu bulan.
Sumber yang dekat dengan proses negosiasi menyebutkan bahwa sebuah proposal telah diajukan kepada Hamas. Proposal itu meminta para pejuang di Rafah menyerahkan senjata mereka sebagai syarat untuk mendapatkan izin melintas ke wilayah lain di Gaza. Seorang pejabat keamanan Mesir menjelaskan bahwa mediator mengusulkan agar para pejuang menyerahkan senjata kepada otoritas Mesir. Mereka juga diminta memberikan informasi terkait lokasi terowongan di Rafah agar fasilitas itu dapat dihancurkan. Sebagai imbalannya, para pejuang dijanjikan perlindungan dan jaminan perjalanan yang aman.
Brigade Al-Qassam menolak usulan tersebut dan menyatakan bahwa tindakan Israel telah memicu perlawanan para pejuang. Mereka menegaskan bahwa pasukan Hamas bertempur dalam rangka mempertahankan diri dari agresi militer yang terus berjalan. Hamas juga menilai tekanan yang diberikan Israel tidak sejalan dengan upaya menjaga stabilitas di Gaza.
BACA JUGA : “Taliban Protes Afghanistan Tak Diundang ke KTT Iklim COP30”
Pernyataan ini memperkuat situasi tegang di Rafah dan menandakan potensi gagalnya upaya mediasi yang tengah berlangsung. Para mediator kini menghadapi tantangan besar untuk mencegah runtuhnya gencatan senjata dan menghindari eskalasi baru dalam konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.
Al-Qassam Tegaskan Tidak Akan Menyerah
Brigade Al-Qassam menegaskan bahwa mereka tidak memiliki konsep menyerah atau menyerahkan diri dalam konflik Rafah. Dalam pernyataan resmi yang dikutip aawsat pada Minggu (9/11/2025), kelompok itu menekankan tekad untuk tetap bertahan menghadapi tekanan Israel. Sikap tegas ini muncul di tengah usulan mediasi yang menawarkan keselamatan bagi sekitar 200 pejuang Hamas bila mereka bersedia menyerahkan senjata.
Utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, menyatakan bahwa proposal tersebut menjadi ujian penting dalam upaya melucuti pasukan Hamas di seluruh Gaza. Brigade Al-Qassam tidak memberikan komentar langsung terkait pembahasan mengenai nasib para pejuang di Rafah. Mereka hanya mengisyaratkan bahwa krisis ini dapat memengaruhi keberlanjutan gencatan senjata.
BACA JUGA : “Prabowo Memimpin Upacara Ziarah Nasional Hari Pahlawan”
Kekerasan di Rafah Picu Ketegangan Baru
Sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dimulai pada 10 Oktober, Rafah menjadi titik kekerasan paling intens. Dua serangan terjadi terhadap pasukan Israel, dan Israel menuding Hamas bertanggung jawab. Hamas membantah tuduhan itu. Bentrokan di Rafah menewaskan tiga tentara Israel dan memicu serangan balasan yang menewaskan puluhan warga Palestina.
Situasi ini meningkatkan kekhawatiran atas potensi runtuhnya gencatan senjata yang masih rapuh. Di tengah ketegangan tersebut, Brigade Al-Qassam mengumumkan rencana menyerahkan jenazah tentara Israel, Hadar Goldin. Pengumuman itu menjadi perkembangan penting di tengah konflik yang terus menunjukan tanda eskalasi di wilayah Rafah.




Leave a Reply