Ahli Gizi Ingatkan Pantau Warna Urine untuk Cegah Dehidrasi Saat Cuaca Panas
Cuaca panas yang masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia membuat masyarakat perlu lebih memperhatikan kecukupan cairan tubuh. Ahli gizi Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum mengingatkan bahwa kebutuhan cairan setiap orang tidak selalu sama sehingga tidak cukup hanya berpatokan pada anjuran minum sekitar dua liter air per hari.
Menurut Tan, aktivitas fisik, kondisi lingkungan, serta suhu udara menjadi faktor yang memengaruhi banyaknya cairan yang hilang melalui keringat. Karena itu, masyarakat perlu mengenali tanda-tanda hidrasi tubuh agar dapat menyesuaikan asupan cairan sesuai kebutuhan masing-masing.
Warna Urine Menjadi Indikator Sederhana Kondisi Hidrasi
Tan menjelaskan bahwa salah satu cara paling mudah untuk memantau kecukupan cairan tubuh adalah dengan memperhatikan warna urine. Indikator ini dapat membantu seseorang mengetahui apakah tubuh masih berada dalam kondisi terhidrasi dengan baik atau membutuhkan tambahan cairan.
Menurut dia, urine yang berwarna jernih hingga kuning muda umumnya menandakan tubuh masih memiliki kecukupan cairan. Sebaliknya, warna urine yang semakin pekat dapat menjadi sinyal bahwa tubuh mulai mengalami kekurangan cairan dan membutuhkan lebih banyak asupan air.
“Ini parameternya butuh lebih atau tidak. Kalau masih jernih kuning muda ya aman,” ujar Tan.
Ia menegaskan bahwa kebutuhan minum tidak dapat disamaratakan untuk seluruh orang. Seseorang yang bekerja di luar ruangan atau melakukan aktivitas fisik berat akan kehilangan cairan lebih banyak dibandingkan mereka yang beraktivitas di dalam ruangan berpendingin udara.
Karena itu, memantau kondisi tubuh secara langsung dinilai lebih efektif daripada hanya mengikuti angka konsumsi air tertentu setiap hari. Pendekatan tersebut membantu masyarakat memenuhi kebutuhan cairan sesuai kondisi yang dihadapi.
Selain warna urine, rasa haus, mulut yang mulai terasa kering, serta penurunan stamina juga dapat menjadi tanda awal tubuh membutuhkan tambahan cairan. Apabila kondisi tersebut diabaikan, risiko dehidrasi dapat meningkat, terutama saat cuaca panas berlangsung dalam waktu lama.
Tan juga menanggapi anggapan bahwa air kelapa lebih baik daripada air mineral untuk menjaga hidrasi tubuh. Menurut dia, air kelapa memang dapat dikonsumsi sebagai pilihan minuman, tetapi bukan menjadi syarat utama untuk memenuhi kebutuhan cairan.
“Boleh aja, tapi enggak wajib,” katanya.
baca juga: Hobi Baru Ini Terbukti Ampuh Jaga Kesehatan Mental di Akhir Pekan
Ia menambahkan bahwa air kelapa tetap dapat memberikan manfaat apabila diminum tanpa tambahan gula. Minuman tersebut dapat menjadi alternatif jika tersedia, namun tidak menggantikan peran air putih sebagai sumber hidrasi utama.
“Bukan keharusan. Kalau ada dan tersedia silakan saja, tanpa imbuhan gula,” ujarnya.
Ketika ditanya mengenai air kelapa yang diberi tambahan gula, Tan menilai minuman tersebut tidak lagi termasuk pilihan sehat karena kandungan gula tambahan dapat mengurangi manfaatnya sebagai minuman untuk menjaga hidrasi.
“Ya enggak sehat lagi dong,” katanya.
Menurut Tan, air mineral tetap menjadi pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh setiap hari. Air putih mampu membantu menjaga keseimbangan cairan tanpa tambahan kalori maupun gula yang berlebihan.
Pakar kesehatan juga umumnya menyarankan masyarakat meningkatkan konsumsi air saat cuaca panas, terutama ketika banyak berkeringat akibat aktivitas fisik. Menjaga hidrasi yang baik berperan penting dalam mempertahankan fungsi organ, mengatur suhu tubuh, serta mendukung konsentrasi dan produktivitas.
Dengan memantau warna urine secara rutin dan memenuhi kebutuhan cairan menggunakan air mineral, masyarakat dapat mengurangi risiko dehidrasi selama cuaca panas. Langkah sederhana tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan tubuh, terutama ketika suhu udara meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
baca juga: Sederet Manfaat Teh Hijau bagi Kolesterol dan Kesehatan Jantung




Leave a Reply