Dokter Jelaskan Radioterapi Bekerja Secara Lokal dan Terukur
Radioterapi merupakan salah satu metode pengobatan kanker yang bekerja dengan memberikan radiasi pada area tubuh yang menjadi sasaran terapi. Dokter menegaskan masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan efek samping radioterapi secara berlebihan karena pemberiannya dilakukan secara terukur dan terarah.
Dokter Spesialis Onkologi Radiasi MRCCC Siloam Semanggi, dr. Mirna Primasari, Sp.Onk.Rad, mengatakan dosis dan area penyinaran ditentukan berdasarkan kebutuhan serta kondisi setiap pasien.
Menurut Mirna, radiasi memang dapat menghancurkan sel. Namun, dalam radioterapi, tenaga medis mengatur dosis dan arah pemberian agar terapi ditujukan pada sel yang menjadi sasaran.
Efek Samping Radioterapi Bergantung pada Area yang Diradiasi
Mirna menjelaskan salah satu penyebab masyarakat takut menjalani radioterapi adalah informasi mengenai efek samping yang ditemukan melalui mesin pencari, media sosial, maupun teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Menurut dia, informasi tersebut tidak selalu salah, tetapi dapat menimbulkan pemahaman yang kurang tepat jika disampaikan secara umum tanpa mempertimbangkan lokasi terapi.
baca juga: Keamanan Rekam Medis Elektronik, Menkes: Selevel Sistem Perbankan
“Kalau di Google atau di AI itu dikatakan efek sampingnya berat, maka itu kurang tepat. Bukan salah, tapi kurang tepat karena radiasi itu sifatnya lokal,” ujar Mirna dalam MRCCC Siloam Semanggi Media Hospital Tour 2026 di Jakarta, Selasa.
Ia memberikan contoh pasien yang menjalani radioterapi pada bagian kaki. Pasien tersebut tidak otomatis mengalami kerontokan rambut karena efek radiasi berkaitan dengan area tubuh yang mendapatkan paparan.
Dengan demikian, jenis dan kemungkinan efek samping dapat berbeda antara satu pasien dan pasien lainnya. Faktor seperti lokasi terapi, dosis radiasi, serta kondisi pasien turut menjadi pertimbangan dalam pengobatan.
Dokter Menentukan Dosis Radiasi Sesuai Kebutuhan Pasien
Mirna menekankan bahwa radioterapi harus diberikan berdasarkan indikasi dan dosis yang tepat. Perencanaan tersebut dilakukan agar manfaat pengobatan dapat diperoleh dengan tetap mempertimbangkan risiko terhadap jaringan sehat di sekitar area sasaran.
Ia mengibaratkan penggunaan radioterapi dengan konsumsi obat. Obat dapat memberikan manfaat ketika digunakan sesuai aturan, tetapi penggunaannya secara berlebihan dapat menimbulkan bahaya.
“Kalau diberikan dalam dosis yang tepat dan indikasi yang tepat, misalkan sakit kepala minumnya Panadol, memang itu obatnya. Tapi kalau kita minumnya tiga kali sepuluh tablet, maka itu akan menjadi bahaya. Sama halnya dengan radiasi,” kata Mirna.
Perumpamaan tersebut menunjukkan pentingnya dosis dalam terapi. Radioterapi tidak diberikan secara sembarangan, melainkan melalui perencanaan medis yang mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Tim Medis Menjelaskan Manfaat dan Risiko Radioterapi
Selain menentukan dosis, dokter dan tim medis juga memberikan penjelasan kepada pasien mengenai proses terapi serta kemungkinan efek yang dapat muncul. Informasi tersebut mencakup potensi komplikasi sehingga pasien dapat memahami manfaat dan risiko sebelum menjalani pengobatan.
Mirna meminta masyarakat tidak langsung merasa takut hanya berdasarkan informasi umum yang ditemukan di internet. Menurut dia, pasien sebaiknya memperoleh penjelasan dari tenaga medis yang menangani kondisi mereka.
“Saya selalu sampaikan jangan takut dulu karena kita akan menjelaskan semua yang akan timbul, komplikasi, dan jadilah lebih bijak dalam memilih informasi yang beredar,” ujarnya.
Pendekatan tersebut juga membantu pasien memahami bahwa efek radioterapi tidak dapat disamaratakan. Informasi mengenai terapi perlu dilihat berdasarkan diagnosis, lokasi kanker, target radiasi, dosis, serta rencana pengobatan yang telah ditentukan dokter.
Radioterapi Perlu Dipahami Berdasarkan Kondisi Setiap Pasien
Radioterapi memang dapat menimbulkan efek samping, tetapi tingkat dan jenisnya bergantung pada berbagai faktor. Sifat radiasi yang terarah membuat efek terapi berkaitan erat dengan jaringan dan organ yang berada di sekitar area sasaran.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menilai radioterapi hanya berdasarkan daftar efek samping yang ditemukan secara umum di internet. Konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting untuk memperoleh informasi yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.
Penjelasan tenaga medis juga membantu pasien mengambil keputusan berdasarkan informasi yang akurat. Dengan memahami cara kerja, tujuan, dosis, serta potensi risiko terapi, pasien dapat menjalani radioterapi dengan pemahaman yang lebih baik dan tidak diliputi kekhawatiran secara berlebihan.
baca juga: Dokter jelaskan perbedaan radioterapi eksternal dan internal




Leave a Reply