thepoethouse – Dr. Dicky Armein Hanafy Pakar jantung mengingatkan masyarakat mengenai bahaya fibrilasi atrium atau atrial fibrillation (AF). Ia menyebut AF sebagai gangguan irama jantung yang sangat umum dan berdampak besar pada kesehatan global.
Ia menjelaskan bahwa kawasan Asia-Pasifik mengalami peningkatan signifikan kasus AF setiap tahun. Wilayah ini menampung lebih dari separuh populasi dunia sehingga kondisi tersebut menjadi ancaman kesehatan besar. Namun, akses terhadap layanan aritmia yang optimal masih belum merata di banyak negara.
Dr. Dicky menegaskan bahwa AF dapat meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat. Kondisi ini juga meningkatkan risiko gagal jantung hingga tiga kali lipat. Ia menyebut banyak penderita AF tidak terdiagnosis karena gejala sering muncul secara samar atau tidak konsisten.
Ia menyoroti bahwa wilayah dengan sumber daya medis terbatas menghadapi tantangan berat dalam mendeteksi AF lebih awal. Diagnosis yang terlambat membuat pasien rentan mengalami komplikasi parah, terutama stroke yang sering berakhir fatal atau menyebabkan kecacatan permanen.
BACA JUGA : “Satpol PP Gerebek Cipayung Depok, Bangunan Liar Dibongkar dan Toko Miras Digerebek”
Ia meminta masyarakat lebih sadar terhadap gejala AF seperti jantung berdebar, pusing, kelelahan, atau sesak napas. Deteksi dini, pemeriksaan rutin, dan pengobatan tepat dapat menurunkan risiko komplikasi berbahaya.
Tantangan Penanganan Aritmia di Kawasan Asia-Pasifik
Data APHRS White Book 2023 menunjukkan tindakan seperti kateter ablasi dan pemasangan ICD di banyak negara Asia masih sangat rendah. Angkanya bahkan ratusan kali lebih kecil dibanding negara maju. Ketimpangan ini menegaskan perlunya strategi kesehatan jangka panjang yang lebih kuat dan merata.
Dr. Dicky Armein Hanafy menyampaikan bahwa beban penyakit kardiovaskular di Asia-Pasifik terus meningkat setiap tahun. Ia menilai perkembangan teknologi medis belum mampu mengimbangi luasnya kebutuhan layanan aritmia. Banyak pasien masih kesulitan mengakses fasilitas yang memadai. Kondisi ini menciptakan celah besar antara kebutuhan dan kemampuan layanan kesehatan regional.
APHRS terus berupaya memperkuat kualitas layanan melalui pelatihan regional, program fellowship, serta kolaborasi penelitian. Namun, pemerataan layanan tetap menjadi tantangan utama bagi banyak negara berkembang.
Pentingnya Deteksi Dini dan Teknologi Pendukung
Perkembangan perangkat wearable dan aplikasi kesehatan membuka peluang baru dalam deteksi dini aritmia. Teknologi ini membantu masyarakat memantau irama jantung secara mandiri. Meski begitu, pemeriksaan manual tetap dibutuhkan untuk memastikan akurasi hasil.
BACA JUGA : “Aspal Baru di Lombok Tengah Terkelupas, Dinas PUPR Beri Penjelasan”
Dr. Dicky mengimbau masyarakat untuk rutin memeriksa denyut nadi sendiri. Pemeriksaan dilakukan dengan menempatkan jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan atau leher. Hitung denyut selama tiga puluh detik lalu kalikan dua. Rentang nadi normal berada antara enam puluh hingga seratus kali per menit.
Langkah sederhana ini memungkinkan deteksi dini fibrilasi atrium yang dapat meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat. Deteksi cepat memberi peluang penanganan lebih efektif dan mencegah komplikasi berat.




Leave a Reply