thepoethouse.com -Juara dunia kelas welter junior WBO, Shakur Stevenson, secara terbuka menantang juara kelas ringan UFC, Ilia Topuria, untuk bertarung di ring tinju profesional. Pernyataan ini disampaikan Stevenson dalam kanal YouTube Adin Ross, Rabu, yang dipantau di Jakarta.
Stevenson menegaskan, “Katakan padanya (Ilia Topuria) untuk datang dan melawan saya,” menanggapi pernyataan Topuria yang menyebut MMA lebih dari tinju. Tantangan ini menarik perhatian karena mempertemukan atlet dari dua disiplin olahraga berbeda.
Dalam percakapan bersama Adin Ross, Stevenson bersama mentornya, Terence Crawford, membahas perbedaan mendasar antara seni bela diri campuran (MMA) dan tinju profesional. Stevenson menekankan teknik, strategi, dan aturan tinju yang unik dibandingkan MMA.
Menurut Stevenson, duel melawan Topuria akan menjadi peluang untuk menunjukkan keunggulan tinju profesional. Ia percaya bahwa pengalaman, kecepatan, dan teknik bertahan tinju akan menjadi faktor penentu di ring.
Topuria, julukan “El Matador”, sebelumnya menyatakan bahwa MMA memiliki kompleksitas lebih tinggi dibanding tinju. Tantangan Stevenson menjadi respons langsung, mengundang duel lintas disiplin yang jarang terjadi di arena profesional.
Baca juga:“Chelsea Kurang Tenang saat Ditahan Imbang Leeds Menurut Rosenior”
Terence Crawford Jelaskan Perbedaan Keunggulan Tinju dan UFC
Juara dunia kelas menengah super tak terbantahkan, Terence Crawford, menekankan bahwa setiap olahraga bela diri memiliki keunggulannya sendiri. Pernyataan ini disampaikan saat membahas tantangan Shakur Stevenson kepada juara UFC, Ilia Topuria, dalam kanal YouTube Adin Ross.
Crawford menjelaskan, “UFC bagus untuk apa yang mereka lakukan, dan kami juga bagus untuk apa yang kami lakukan.” Ia menekankan bahwa perbedaan teknik dan strategi menjadi ciri khas masing-masing disiplin olahraga.
Ia menambahkan, dalam MMA, seorang petarung dapat menggunakan pukulan, tendangan, atau menjatuhkan lawan. “Kalau saya tidak bisa mengalahkan kamu dengan tangan, saya bisa menendang, saya bisa menjatuhkan kamu. Kapasitas mentalnya sangat berbeda dibandingkan hanya menendang dan memukul,” jelas Crawford.
Pernyataan ini menyoroti kompleksitas MMA dibanding tinju profesional. Di sisi lain, tinju menekankan kecepatan tangan, teknik pukulan, pertahanan, dan strategi di ring tanpa penggunaan kaki atau takedown.
Crawford juga menekankan pentingnya menghargai masing-masing disiplin. Meskipun Stevenson menantang Topuria ke ring tinju, Crawford menekankan bahwa MMA memiliki aspek mental dan fisik yang berbeda, termasuk kemampuan bertahan, mengontrol jarak, dan adaptasi gerakan.
Tantangan Laga Lintas Disiplin Stevenson vs Topuria Hadapi Hambatan Besar
Juara kelas welter junior WBO, Shakur Stevenson, siap menyambut tantangan juara kelas ringan UFC, Ilia Topuria, di ring tinju. Topuria awal tahun ini menyatakan karier MMA-nya hampir berakhir dan berencana beralih ke tinju dalam waktu dekat.
Meskipun menarik, kemungkinan duel lintas disiplin antara Stevenson dan Topuria menghadapi hambatan signifikan. Salah satunya adalah izin dari CEO UFC, Dana White, yang belum mengizinkan petarung UFC menyeberang ke tinju sejak era Conor McGregor.
Selain faktor izin, perbedaan kelas berat menjadi kendala lain. Stevenson bertarung di kelas welter junior (63,5 kg), sementara Topuria berada di kelas ringan UFC (70,3 kg). Perbedaan ini menimbulkan tantangan dalam penyesuaian fisik dan keselamatan pertarungan.
Shakur Stevenson menegaskan kesiapan mental dan teknisnya untuk duel lintas disiplin. Ia percaya kemampuan tinju profesionalnya dapat menghadapi petarung MMA, namun tetap mengakui kompleksitas yang dibawa Topuria dari disiplin MMA.
Ahli olahraga menyebut, duel lintas disiplin menuntut negosiasi aturan, jaminan keselamatan, serta kesepakatan finansial yang jelas. Tanpa persetujuan UFC, peluang pertarungan ini sulit terwujud dalam waktu dekat.
Baca juga:“Persib Siap Andalkan Tiga Pemain Baru Saat Hadapi Ratchaburi”




Leave a Reply