1.360 Siswa Memulai Pembelajaran di 17 Sekolah Nasional Terintegrasi
Sebanyak 1.360 siswa berprestasi mulai mengikuti tahun ajaran baru di 17 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) yang tersebar di 17 kabupaten/kota pada 13 provinsi. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses terhadap pendidikan berkualitas sekaligus mengurangi kesenjangan mutu antardaerah.
Deputi I Bidang Strategi dan Sistem Komunikasi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Fahd Pahdepie mengatakan 17 SNT tersebut kini memasuki tahap awal penyelenggaraan. Para siswa mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah sebagai angkatan pertama program tersebut.
Pemerintah Mulai Operasikan 17 Sekolah Nasional Terintegrasi
Fahd menjelaskan setiap SNT mulai menerima siswa pada tahun ajaran perdana. Pada jenjang SMP, masing-masing sekolah memiliki 20 siswa yang terbagi dalam dua kelas.
Jenjang SMA juga memulai pembelajaran dengan 20 siswa. Secara keseluruhan, 17 SNT yang telah beroperasi kini menampung sekitar 1.360 siswa.
“Karena baru dibuka, dan baru masa pengenalan lingkungan sekolah, artinya baru pertama ada angkatan pertama untuk SNT ini,” kata Fahd dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Pemerintah masih membangun 20 lokasi SNT lainnya. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari rencana perluasan program hingga mencapai 500 satuan pendidikan di berbagai wilayah Indonesia.
baca juga: Kaesang Maju Caleg di ‘Kandang Banteng’, Ini Respons Puan
SNT Dibangun untuk Mengurangi Ketimpangan Mutu Pendidikan
Kemendikdasmen mengembangkan SNT setelah pemerintah melihat masih adanya kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem pendidikan sekaligus memperluas kesempatan siswa mendapatkan layanan pendidikan bermutu.
Data Kemendikdasmen per 30 Juni 2025 menunjukkan kondisi tersebut. Dari 7.288 kecamatan di Indonesia, hanya 263 kecamatan atau sekitar 4 persen yang memiliki SMP dan SMA dengan capaian mutu baik melalui sekolah berakreditasi A.
Sebaran sekolah bermutu juga masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sementara itu, wilayah Papua hanya memiliki empat sekolah bermutu yang tersebar di tiga kecamatan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam membangun SNT di berbagai daerah. Pemerintah berharap sekolah tersebut dapat menjadi pusat pengembangan pendidikan sekaligus memperkuat kapasitas sekolah di sekitarnya.
Fasilitas dan Rasio Guru Mendukung Pembelajaran Siswa
Pemerintah merancang SNT dengan fasilitas pendukung pembelajaran yang cukup lengkap. Fasilitas tersebut mencakup perpustakaan dengan akses jurnal elektronik global, ruang diskusi, pusat olahraga, serta kendaraan antarjemput siswa.
Selain fasilitas, pemerintah menyiapkan tenaga pendidik dengan rasio guru dan siswa yang relatif rendah. Saat ini terdapat 17 kepala sekolah dan 204 tenaga pendidik yang bertugas di 17 SNT.
Dengan jumlah tersebut, rasio pembelajaran mencapai sekitar satu guru untuk enam siswa. Fahd menilai komposisi itu memberikan ruang lebih besar bagi guru untuk memberikan perhatian terhadap perkembangan setiap siswa.
“Artinya 1 banding 6, 1 guru menangani 6 murid. Ini satu desain yang sangat ideal untuk sebuah sekolah yang ingin mencetak para lulusan atau mendidik siswa berprestasi,” ujar Fahd.
SNT Mengintegrasikan Pendidikan SMP dan SMA
SNT dirancang untuk mengintegrasikan jenjang SMP dan SMA dalam satu ekosistem pendidikan. Siswa tetap mengikuti kurikulum nasional dengan pendekatan pembelajaran mendalam.
Model pembelajaran tersebut mengintegrasikan STEM yang mencakup sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika. Olahraga juga menjadi bagian dari pendekatan pendidikan yang diterapkan di SNT.
Selain kemampuan akademik, sekolah memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan karakter, minat, bakat, serta potensi masing-masing. Pendekatan tersebut diharapkan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sekaligus karakter yang kuat.
SNT Berperan sebagai Pusat Pengembangan Pendidikan Daerah
Pemerintah tidak hanya menempatkan SNT sebagai sekolah bagi siswa terpilih. Sekolah tersebut juga dirancang menjadi pusat pengembangan pendidikan di wilayah masing-masing.
SNT akan mendorong peningkatan kompetensi guru melalui berbagi praktik baik dan pemanfaatan sumber belajar. Sekolah juga diarahkan membangun kemitraan dengan satuan pendidikan lain di sekitarnya.
Dengan model tersebut, manfaat SNT diharapkan tidak berhenti pada siswa yang belajar di dalamnya. Penguatan kapasitas sekolah sekitar juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas dampak peningkatan mutu pendidikan.
SNT Memiliki Sasaran Berbeda dari Sekolah Rakyat dan Sekolah Unggul Garuda
Fahd menjelaskan SNT, Sekolah Rakyat, dan Sekolah Unggul Garuda memiliki sasaran serta pendekatan penyelenggaraan yang berbeda. Namun, ketiga program tersebut memiliki tujuan yang sama untuk memastikan anak Indonesia memperoleh pendidikan terbaik.
SNT lebih diarahkan sebagai pusat pengembangan pendidikan di daerah. Perannya mencakup penguatan kompetensi guru, pengembangan sumber belajar, serta kolaborasi dengan sekolah lain di wilayah sekitar.
Ke depan, pemerintah berencana memperluas jumlah SNT hingga 500 satuan pendidikan. Perluasan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi konsentrasi sekolah bermutu di wilayah tertentu dan memperkuat pemerataan kualitas pendidikan nasional.
baca juga: Bupati Banyumas dorong siswa SNT bangun karakter sejak dini




Leave a Reply