thepoethouse – Pengusaha nasional dan pendiri Grup Alam Sutera, The Ning King, meninggal dunia pada Minggu (2/11/2025). Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh pihak keluarga dan manajemen Alam Sutera Group melalui unggahan resmi di media sosial.
“Turut berduka cita atas berpulangnya Bapak The Ning King, Pendiri Argo Manunggal Group (25 Mei 1932 – 2 November 2025). Segenap keluarga besar Alam Sutera Group menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya,” tulis akun resmi Alam Sutera di Instagram.
Berdasarkan informasi yang diterima, The Ning King meninggal dunia di Singapura pada usia 94 tahun. Sosoknya dikenal luas sebagai pengusaha sukses sekaligus tokoh penting dalam pengembangan kawasan Kota Alam Sutera, salah satu proyek properti terbesar di Indonesia.
Lahir di Bandung pada 20 April 1931, The Ning King membangun reputasi sebagai pionir di industri tekstil dan properti nasional. Ia juga mendirikan Argo Manunggal Group, perusahaan yang menjadi cikal bakal berdirinya Alam Sutera Group.
Di bawah kepemimpinannya, kawasan Alam Sutera berkembang pesat menjadi kota mandiri modern yang mengintegrasikan hunian, bisnis, pendidikan, dan hiburan. Visi jangka panjangnya menjadikan Alam Sutera simbol kemajuan industri properti Indonesia.
BACA JUGA : “BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem, Waspadai Banjir dan Longsor!”
Kepergian The Ning King meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia bisnis nasional. Banyak pihak menilai kontribusinya telah memberikan dampak besar terhadap pembangunan ekonomi dan industri properti Tanah Air.
Warisan kerja keras dan dedikasinya akan terus hidup melalui perusahaan-perusahaan yang ia dirikan dan visi pembangunan yang telah ia wariskan untuk generasi berikutnya.
The Ning King, dari Toko Tekstil Kecil hingga Jadi Miliarder Properti
Sosok The Ning King dikenal sebagai pengusaha tangguh yang memulai kariernya dari nol. Sebelum menjadi pendiri Alam Sutera Group, ia lebih dulu berkecimpung di dunia tekstil. Perjalanan bisnisnya dimulai dari sebuah toko kecil di Jalan Pintu Kelinci, Jakarta Pusat, setelah sebelumnya merantau dari Bandung, Jawa Barat.
Dengan tekad kuat, The Ning King membangun pabrik tekstil sendiri dan berkomitmen mendukung produk lokal. Ia selalu menyematkan label “Buatan Indonesia” pada setiap hasil produksi. Prinsip itu menjadi cerminan nasionalisme dan kerja kerasnya sebagai pengusaha yang ingin mengangkat industri dalam negeri.
BACA JUGA : “KPK Tegas Soal Kasus Whoosh: Tak Ada yang Kebal Hukum!”
Dedikasinya di dunia tekstil membuka jalan menuju sektor lain. Ia kemudian merambah bisnis properti dan industri, hingga mendirikan perusahaan besar seperti PT Alam Sutera Realty Tbk dan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST). Kedua perusahaan ini berkembang pesat dan menjadi bagian dari Grup Argo Manunggal, konglomerasi besar yang ia pimpin.
Masuk Daftar Orang Terkaya Forbes dengan Kekayaan Rp6,4 Triliun
Kesuksesan The Ning King membawanya masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes pada tahun 2017. Saat itu, total kekayaannya diperkirakan mencapai USD450 juta atau sekitar Rp6,4 triliun dengan kurs Rp14.300 per dolar AS.
Meski sukses besar, The Ning King tetap dikenal sebagai sosok rendah hati dan pekerja keras. Ia menanamkan nilai disiplin, integritas, dan cinta Tanah Air dalam setiap langkah bisnisnya.
Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak pengusaha muda Indonesia, bahwa keberhasilan besar dapat lahir dari usaha kecil yang dijalankan dengan ketekunan dan visi jangka panjang.




Leave a Reply